Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 25 April 2026 | Real Madrid kembali berada di ujung tanduk klasemen La Liga setelah serangkaian kebobolan menit 90 yang menambah beban mental pemain dan menurunkan harapan meraih gelar juara. Sejak Alvaro Arbeloa mengambil alih kursi pelatih pada 12 Januari, performa Los Blancos mengalami penurunan signifikan, terutama pada fase akhir pertandingan.
Pada pekan ke-32, Madrid menurunkan Vinicius Junior yang mencetak gol pada menit ke-17, memberi harapan awal. Namun, lawan mereka, Barcelona, tetap menekan dan pada menit tambahan ke-90+4, Hector Bellerin menambah gol balasan yang membuat hasil akhir menjadi imbang 1-1. Kegagalan mempertahankan keunggulan ini memperlebar selisih poin dengan juara sementara, Barcelona, yang kini menjadi delapan poin lebih tinggi.
Kebobolan menit 90 bukanlah kejadian tunggal. Pada laga melawan Osasuna, Real Madrid menyerah 1-2 setelah gol penentu pada menit 90. Situasi serupa terulang melawan Mallorca, di mana gol kemenangan lawan muncul pada menit 90+1. Bahkan di Copa del Rey, Madrid tersingkir setelah kebobolan pada menit 90+4 melawan Albacete, sementara di Liga Champions, Bayern Munich memanfaatkan kelemahan di menit-menit akhir untuk meraih hasil menguntungkan.
Berikut ringkasan lima pertandingan kritis yang menampilkan pola kebobolan menit 90:
- Real Madrid vs. Osasuna – 1-2 (gol penentu menit 90)
- Real Madrid vs. Mallorca – 0-1 (gol menit 90+1)
- Real Madrid vs. Albacete (Copa del Rey) – 1-2 (gol menit 90+4)
- Real Madrid vs. Barcelona – 1-1 (gol menit 90+4)
- Real Madrid vs. Bayern Munich (Liga Champions) – 2-3 (gol menit akhir)
Data di atas menegaskan pola kronologis yang mengkhawatirkan. Dalam tabel berikut, terlihat perbandingan statistik pertahanan Madrid sebelum dan sesudah Arbeloa mengambil alih:
| Periode | Poin | Kebobolan | Kebobolan Menit 90+ |
|---|---|---|---|
| Januari – Februari (Alonso) | 30 | 22 | 2 |
| Maret – April (Arbeloa) | 28 | 28 | 7 |
Statistik tersebut menunjukkan peningkatan tajam pada kebobolan menit 90+, yang secara langsung memengaruhi jarak poin dengan rival utama. Para analis sepak bola menilai bahwa masalah utama terletak pada manajemen tempo dan kurangnya konsentrasi pemain di fase akhir. Arbeloa sendiri mengakui bahwa situasi ini masih menjadi pekerjaan rumah. “Gol-gol yang kami derita di menit‑menit terakhir? Kalau ada alasan yang jelas, kami akan membetulkannya,” ujar dia dalam konferensi pers pasca laga melawan Real Betis.
Tekanan dari media dan suporter pun semakin menguat. Banyak yang menilai bahwa keputusan mengangkat Arbeloa, mantan bek yang belum memiliki pengalaman melatih di level top, menjadi faktor utama penurunan performa. Di sisi lain, skuad masih dihantui cedera, terutama pada Kylian Mbappe yang mengalami masalah hamstring, serta ketidakhadiran beberapa pemain kunci pada menit-menit krusial.
Jika Real Madrid tidak dapat mengatasi kebobolan menit 90, peluang mereka untuk mengakhiri musim sebagai juara La Liga tampak suram. Barcelona, yang masih konsisten mencetak gol di setiap fase pertandingan, kini memegang jarak 11 poin jika menang melawan Getafe pada pekan ke-33. Sementara itu, Real Madrid harus mencari solusi taktis, baik dengan memperkuat lini belakang maupun meningkatkan fokus mental pemain menjelang sisa pertandingan.
Kesimpulannya, kebobolan menit 90 menjadi momok yang menahan Real Madrid dari ambisi juara. Tanpa perbaikan signifikan, tekanan akan semakin besar, dan pertarungan gelar di La Liga dapat berakhir tanpa bendera putih Madrid.











