Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 22 Juli 2026 | Presiden Nikaragua, Daniel Ortega, baru-baru ini mengumumkan bahwa negaranya tidak akan lagi mengadakan pemilu. Hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional dan memicu reaksi keras dari Amerika Serikat. Ortega, yang telah memimpin Nikaragua selama hampir dua dekade, menyatakan bahwa pemilu hanya akan memberi kesempatan kepada lawan politiknya untuk mengambil alih kekuasaan.
Ortega, yang pernah menjadi pemimpin gerilyawan Sandinista, telah memerintah Nikaragua sejak 2007. Ia telah memenangkan beberapa pemilu, tetapi lawan politiknya dan pengamat internasional telah mempertanyakan kesahihan proses pemilu tersebut. Ortega juga telah dikenal karena tindakannya yang otoriter dan represif terhadap lawan politik dan aktivis hak asasi manusia.
Amerika Serikat telah mengecam rencana Ortega untuk menghapus pemilu dan menyebutnya sebagai tindakan yang tidak demokratis. Menlu AS, Marco Rubio, menyatakan bahwa pemerintahan Ortega telah menjadi semakin otoriter dan represif, dan bahwa janji Ortega untuk menghapus pemilu menunjukkan ketakutannya terhadap keinginan rakyat Nikaragua.
Keputusan Ortega untuk menghapus pemilu juga telah memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Nikaragua. Banyak orang yang takut bahwa keputusan ini akan membawa negara mereka ke dalam era otoritarianisme yang lebih dalam dan membatasi hak-hak politik mereka. Ortega telah berjanji untuk bekerja dengan parlemen dan lembaga negara lainnya untuk mengesahkan undang-undang yang akan mencegah lawan politiknya mengambil alih kekuasaan.
Situasi di Nikaragua telah memburuk sejak 2018, ketika protes anti-pemerintah pecah di seluruh negeri. Pemerintahan Ortega telah dikenal karena tindakannya yang keras terhadap lawan politik dan aktivis hak asasi manusia, dan banyak orang yang telah dipenjara atau dipaksa melarikan diri ke luar negeri.
Kesimpulan, keputusan Presiden Nikaragua, Daniel Ortega, untuk menghapus pemilu telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat internasional dan memicu reaksi keras dari Amerika Serikat. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintahan Ortega telah menjadi semakin otoriter dan represif, dan bahwa rakyat Nikaragua khawatir tentang masa depan demokrasi di negara mereka.











