Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 22 April 2026 | PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) menghadapi lonjakan layanan internet berharga Rp100.000 per 30 hari yang ditawarkan oleh kompetitor baru. Menurut VP Corporate Communications & Social Responsibility Telkomsel, Abdullah Fahmi, perusahaan tidak mengubah posisi harga secara drastis, melainkan menumpukan energi pada strategi Telkomsel yang memperkuat nilai tambah layanan broadband.
Fahmi menegaskan bahwa fokus utama Telkomsel adalah memberikan solusi internet nirkabel berkualitas, yang menekankan kebebasan pelanggan melalui bundling layanan digital lifestyle. Untuk mewujudkan hal ini, Telkomsel melakukan penyegaran price plan nasional, meningkatkan kecepatan pada level entry, menyederhanakan produk, meningkatkan reliabilitas jaringan, serta memperluas akses layanan secara terukur. Semua langkah ini disesuaikan dengan kondisi ekonomi makro Indonesia serta segmentasi kebutuhan konsumen.
Berbagai produk Telkomsel kini diposisikan secara tersegmentasi:
- IndiHome: Layanan berbasis serat optik yang menjadi pilihan utama bagi keluarga yang mengutamakan stabilitas dan kecepatan tinggi.
- Orbit: Solusi Fixed Wireless Access (FWA) premium yang menawarkan fleksibilitas plug‑and‑play, pilihan kuota dan masa aktif sesuai kebutuhan, serta bundling konten digital seperti Netflix, Disney+ Hotstar, Prime Video, CATCHPLAY+, YouTube, WeTV, serta layanan produktivitas Zoom Pro.
- EZnet: Layanan yang menargetkan segmen harga terjangkau, tersedia dalam varian FWA maupun fiber, memberikan koneksi andal dengan tarif lebih rendah.
Strategi dual‑track yang diusung Telkomsel menggabungkan disiplin eksekusi dengan penawaran “fit‑for‑purpose” bagi rumah tangga. Dengan tiga opsi utama – IndiHome, Orbit, dan EZnet – pelanggan dapat memilih solusi yang paling sesuai dengan kebutuhan digital mereka, baik untuk streaming, kerja dari rumah, atau penggunaan sehari‑hari.
Sementara Telkomsel memperkuat portofolio, pesaing baru seperti Surge dan MyRepublic juga meluncurkan layanan internet murah. Surge, pemenang lelang frekuensi 1,4 GHz di wilayah Jawa, Papua, dan Maluku, menawarkan program Internet Rakyat (IRA) dengan kecepatan 100 Mbps seharga Rp100.000 per bulan, berbasis teknologi 5G FWA. MyRepublic, dengan lisensi pita frekuensi 1,4 GHz di Sumatra, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi, memperkenalkan MyRepublic Air, layanan serupa yang menargetkan segmen konsumen sensitif harga.
Menanggapi persaingan ini, Telkomsel menekankan keunggulan pada reliabilitas jaringan dan ekosistem layanan digital terintegrasi. Bundling konten premium pada Orbit, misalnya, memberi nilai tambah yang sulit ditandingi oleh layanan murah yang biasanya hanya menawarkan kecepatan tanpa tambahan layanan. Selain itu, Telkomsel menyiapkan paket yang dapat di‑upgrade secara fleksibel, memungkinkan pelanggan beralih dari EZnet ke Orbit atau IndiHome seiring peningkatan kebutuhan.
Strategi ini juga diperkaya dengan peningkatan kecepatan pada paket entry‑level, sehingga konsumen yang menginginkan layanan dengan harga terjangkau tetap mendapatkan pengalaman internet yang stabil. Penyederhanaan produk mengurangi kerumitan pemilihan paket, sehingga proses berlangganan menjadi lebih cepat dan transparan.
Dalam konteks ekonomi nasional yang sedang menyesuaikan diri, Telkomsel memperhitungkan daya beli masyarakat dengan menawarkan variasi harga yang beragam, namun tetap menjaga standar kualitas layanan. Pendekatan ini diharapkan dapat menahan arus pelanggan yang beralih ke penyedia layanan murah, sekaligus menarik pengguna baru yang menginginkan layanan premium dengan harga kompetitif.
Ke depan, Telkomsel berencana memperluas jaringan 5G dan memperkuat kolaborasi dengan penyedia konten digital untuk menambah variasi bundling. Langkah ini diharapkan dapat menambah loyalitas pelanggan serta memperkuat posisi Telkomsel sebagai pemimpin pasar internet rumah di Indonesia.
Dengan mengedepankan nilai tambah, fleksibilitas, dan keandalan, strategi Telkomsel berpotensi mengubah dinamika persaingan di sektor internet murah, menjadikan perusahaan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dalam lanskap digital yang semakin kompetitif.











