Ekonomi

Pemerintah Jaga Subsidi BBM, Masyarakat Beralih ke BBM Subsidi

×

Pemerintah Jaga Subsidi BBM, Masyarakat Beralih ke BBM Subsidi

Share this article
Pemerintah Jaga Subsidi BBM, Masyarakat Beralih ke BBM Subsidi
Pemerintah Jaga Subsidi BBM, Masyarakat Beralih ke BBM Subsidi

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 14 Juni 2026 | Pemerintah didesak untuk tetap memperketat perlindungan terhadap kuota dan stabilitas harga BBM bersubsidi. Hal ini penting untuk menjaga daya beli masyarakat, khususnya kelompok rentan, dari dampak kenaikan harga energi.

Kenaikan harga Pertamax yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 kembali menjadi perhatian masyarakat. Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) ini memunculkan berbagai pertanyaan, terutama mengenai alasan di balik perubahan harga tersebut.

📖 Baca juga:
Jakarta Pertamina Enduro Dominasi Ganda: Gelar Proliga 2026 dan Podium MotoGP Jerez, Dukung Bioetanol Nasional

Menurut Guru Besar Ekonomi Mikro Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. Dr. Eeng Ahman, penyesuaian harga BBM non-subsidi seperti Pertamax merupakan keputusan korporasi yang rasional. Penilaian ini muncul di tengah kondisi ekonomi global yang penuh gejolak dan fluktuasi harga minyak dunia.

Pertamina memastikan pasokan BBM subsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, tetap aman di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Adapun nominal harga jual kepada konsumen masih merujuk pada regulasi dan ketentuan yang telah lama berlaku.

Harga Pertalite masih tetap di harga Rp10.000 per liter, dan Biosolar di harga Rp6.800 per liter, sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah. Langkah ini mempertegas komitmen BUMN energi tersebut dalam memberikan perlindungan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah.

Masyarakat yang ingin membeli BBM subsidi wajib terdaftar dalam program Subsidi Tepat Pertamina. Setelah pendaftaran disetujui, pengguna akan memperoleh QR Code yang digunakan saat bertransaksi di SPBU.

📖 Baca juga:
Aleksandar Pavlović: Misi Bangkit Sang Pemuncak

Kebijakan tersebut diterapkan karena BBM subsidi merupakan bahan bakar yang mendapat bantuan dana dari pemerintah melalui APBN sehingga dijual dengan harga lebih terjangkau dibandingkan BBM non-subsidi. Mengingat kuotanya terbatas, penyalurannya hanya diperuntukkan bagi konsumen yang memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.

Dalam beberapa hari terakhir, antrean kendaraan di sejumlah SPBU terlihat semakin panjang sejak pemerintah resmi menaikkan harga Pertamax. Salah seorang warga Taliwang, Rudi mengaku selama ini selalu menggunakan Pertamax untuk sepeda motornya. Namun kenaikan harga yang cukup tinggi membuatnya harus mengubah pilihan.

Hal serupa diungkapkan Andi, seorang pegawai swasta. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini memaksanya lebih berhitung dalam mengelola pengeluaran rumah tangga. “Bukan karena tidak mau pakai Pertamax lagi, tapi memang harus menyesuaikan kemampuan. Selisih harga lumayan kalau dihitung dalam sebulan,” katanya.

Ia mengaku mulai merasakan perubahan suasana di SPBU sejak kenaikan harga Pertamax. Antrean kendaraan yang mengisi Pertalite terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. “Sekarang kalau isi Pertalite antreannya lebih panjang. Banyak yang mungkin sama seperti saya, pindah dari Pertamax,” tukasnya.

📖 Baca juga:
Suku Bunga Acuan Naik, Rupiah Menguat dan Modal Asing Mulai Masuk

Dirut Pertamina, Simon Aloysius Mantiri mengatakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dipastikan tidak mengalami kenaikan. Hal ini dikatakan untuk memberikan kepastian mengenai nasib harga BBM di tengah isu yang berkembang di masyarakat.

Sebagai kesimpulan, pemerintah harus menjaga subsidi BBM untuk masyarakat rentan dan memastikan pasokan BBM subsidi tetap aman. Masyarakat juga harus beradaptasi dengan kenaikan harga BBM non-subsidi dan menggunakan BBM subsidi secara bijak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *