Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 07 Juni 2026 | Pada tahun 2000, mayat seorang gadis ditemukan di sebuah parkir di Massachusetts. Mayat tersebut dalam keadaan mutilasi parah, tanpa kepala dan tangan. Kasus ini menjadi misteri yang belum terpecahkan selama 26 tahun.
Selama dua dekade lebih, penyelidik mencoba mengidentifikasi korban dengan cara mencocokkan sidik jari dan DNA, tetapi upaya tersebut gagal. Baru-baru ini, dengan menggunakan teknologi genetika yang canggih, penyelidik berhasil mengidentifikasi korban sebagai Tiffany Bradley, seorang remaja berusia 16 tahun dari Pennsylvania.
Tiffany Bradley dilaporkan hilang pada tahun 2000. Keluarganya menerima panggilan telepon dari Tiffany sebelum dia dibunuh, dan mereka mendengar suara Tiffany yang terdengar takut sebelum panggilan tersebut terputus.
Pelaku pembunuhan, Eugene McCollom, telah ditangkap dan dihukum seumur hidup. Namun, identitas korban masih belum diketahui hingga beberapa tahun kemudian.
Dengan menggunakan teknologi genetika, penyelidik dapat membandingkan DNA yang ditemukan pada mayat dengan DNA yang ditemukan pada kerabat korban. Hasilnya menunjukkan bahwa mayat tersebut adalah Tiffany Bradley.
Keluarga Tiffany Bradley sangat gembira karena akhirnya mereka dapat mengetahui apa yang terjadi pada anak mereka. Mereka berharap bahwa kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi orang lain untuk lebih berhati-hati dan waspada terhadap kekerasan.
Kasus ‘Chelsea Jane Doe‘ ini merupakan contoh kasus yang sangat sulit dan kompleks, tetapi dengan menggunakan teknologi yang canggih dan kerja sama yang baik antara penyelidik dan keluarga korban, akhirnya kasus ini dapat terpecahkan.











