TEKNO

Revolusi Baterai Listrik: Dari Bio-Baterai Hingga Sodium-Ion, Masa Depan Energi Berkelanjutan

×

Revolusi Baterai Listrik: Dari Bio-Baterai Hingga Sodium-Ion, Masa Depan Energi Berkelanjutan

Share this article
Revolusi Baterai Listrik: Dari Bio-Baterai Hingga Sodium-Ion, Masa Depan Energi Berkelanjutan
Revolusi Baterai Listrik: Dari Bio-Baterai Hingga Sodium-Ion, Masa Depan Energi Berkelanjutan

Bedah Berita – Berita Terkini dan Terpercaya Indonesia – 01 Juni 2026 | Perkembangan teknologi yang pesat memicu kebutuhan energi listrik yang terus meningkat. Namun, di balik kemajuan ini, muncul persoalan limbah baterai dan pencemaran lingkungan. Para ilmuwan berlomba mencari alternatif energi yang lebih aman, murah, dan berkelanjutan. Salah satu inovasi menarik adalah bio-baterai berbasis limbah buah.

Bio-baterai menggunakan bahan-bahan organik sebagai sumber energi listrik melalui prinsip elektrokimia. Buah-buahan seperti jeruk, nanas, apel, dan kentang mengandung senyawa asam serta ion-ion yang dapat berfungsi sebagai elektrolit alami. Ketika elektroda logam seperti seng (Zn) dan tembaga (Cu) dipasang pada buah tersebut, terjadi reaksi oksidasi dan reduksi (redoks) yang menghasilkan aliran elektron sehingga terbentuk arus listrik.

📖 Baca juga:
Pemda Bebaskan Pajak Daerah untuk Kendaraan Listrik, Begini Sikap Asosiasi SPKLU

Meskipun energi yang dihasilkan relatif kecil, prinsip ini menunjukkan bahwa limbah organik yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan. Fenomena ini memberikan pelajaran penting bahwa alam menyimpan berbagai manfaat yang sering kali belum disadari oleh manusia.

Di sisi lain, produsen baterai terbesar dunia, CATL, telah memulai produksi massal baterai sodium-ion. Baterai ini digadang menjadi alternatif baru bagi industri kendaraan listrik karena menawarkan biaya produksi lebih rendah dengan bahan baku yang lebih melimpah dibandingkan baterai lithium ion konvensional.

📖 Baca juga:
Toyota CATL Gandeng Investasi Rp1,3 Triliun, Baterai EV Lokal Siap Ekspor Global

Pemerintah juga tengah menyiapkan skema insentif baru untuk kendaraan listrik yang rencananya akan berlaku pada 2026. Insentif kali ini diarahkan untuk mobil listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV), sementara kendaraan hybrid tidak masuk dalam skema yang sedang dibahas.

Sementara itu, tren penggunaan kendaraan listrik di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Salah satu model yang cukup banyak diperbincangkan adalah Polytron Fox R. Skuter listrik buatan dalam negeri ini menawarkan kombinasi harga yang kompetitif, teknologi modern, serta biaya operasional yang diklaim lebih hemat dibandingkan motor berbahan bakar bensin.

📖 Baca juga:
Xpeng Meluncurkan Produksi Massal Robotaxi dan Akuisisi Saham Erajaya di Indonesia

Untuk menjaga masa pakai baterai dan battery health, munculah saran cas HP sampai 80 persen saja. Akan tetapi, saran tersebut sejatinya juga bukanlah saran tunggal. Pengguna disarankan untuk mengisi daya saat 30 persen dan mencabutnya jika sudah mencapai 80 persen. Tegangan listrik yang bagus untuk sedikit memperpanjang usia pakai baterai berada di rentang 30-80 persen.

Kesimpulan, revolusi baterai listrik membawa harapan baru bagi masa depan energi berkelanjutan. Dari bio-baterai hingga sodium-ion, inovasi-inovasi ini membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menghasilkan energi yang lebih bersih. Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa teknologi yang kita gunakan tidak hanya canggih, tetapi juga ramah lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *